Monday, 1 April 2013

Nubuat Daniel 8 tentang Pembangunan Bait Kudus Bait Suci oleh Khalifah Umar bin Khattab


Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”
Kitab Daniel adalah salah satu kitab yang Nebiim yang memuat kisah tentang salah satu manusia yang sholeh bernama Danial. Dalam bagian lain telah dikisahkan bagaimana Nubuatan beliau di Pasal yang lain. Kali ini penulis tertarik untuk mengupas Daniel pasal 8 yang menurut analisa penulis merupakan nubuatan pembangunan kembali Bait Kudus di abad ke 7 M. Nubuatan Nabi Daniel ini tampaknya terjadi setelah nubuatan yang terdahulu telah dibahas dan nubuatan pada pasal 2 ini dibuka dengan penglihatan beliau tentang seekor binatang domba jantan
“Nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu. Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai. Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.  Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.”
Domba jantan ini dijelaskan dalam takwil oleh Malaikat Jibril di ujung pasal 2 sebagai kerajaan Persia yang menguasai Yerusalem.
Daniel 8:20 Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
Kemudian pasal berlanjut mengisahkan datangnya sosok kedua.
“Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya. Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat. Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.”
Kambing jantan yang mengalahkan domba jantan itu adalah perumpamaan Kerajaan Yunani di bawah pimpinan sang Penakluk Alexander the Great yang mengalahkan Kerajaan Persia tadi dan menguasai Yerusalem. Demikian takwil oleh Jibril kepada Daniel
Daniel 8:21 Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
Kemudian dikisahkan tentang akhir hidup dari Alexander Agung yang meninggal dipuncak kekuasaannya di usia muda dan meninggalkan kerajaan yang rentan akan perebutan kekuasaan.
“Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit”
Empat tanduk patah itu ditakwilkan  nubuat kerajaan Yunani sepeninggal Alexander terpecah menjadi empat kerajaan kecil
Daniel 8:22 Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
Kerajaan Yunani sepeninggal Alexander Agung terpecah menjadi 4 kerajaan kecil yakni
1.Kerajaan Ptolemaic di Mesir
2.Kerajaan Seleucid di timur
3.Kerajaan Pergamon di Asia Minor
4.Dan terakhir adalah kerajaan Macedonia sendiri
Demikian dikatakan dalam sumber wikipedia bahwa
“the Hellenistic world settled into four stable power blocks: the Ptolemaic Kingdom of Egypt, the Seleucid Empire in the east, the Kingdom of Pergamon in Asia Minor, and Macedon.”
(Terjemahan :” Dunia Hellenisme Yunani terpecah menjadi empat blok yang berkuasa ,yakni kerajaan Ptolemeus di Mesir, Kerajaan Seleucid di timur, Kerajaan Pergamon di Asia Minor, dan terakhir adalah kerajaan Macedonia sendiri)
Karena itulah dikatakan kerajaan Yunani sepeninggal Alexander terpecah menjadi empat
Daniel 8:8 Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
Setelah Alexander the Great wafat tepat pada puncak kekuasaannya maka diantara empat kerajaan tersebut Kerajaan Seleucidlah yang sukses dan mewarisi penguasaan atas Yerusalem khususnya Baitul Maqdis Bait Kudus tersebut. Diketahui bahwa kerajaan ini mempunayi daerah kekuasaan warisan Alexander sampai ke arah timur yakni Pakistan Afghanistan dimana dikatakan
“The Seleucid empire’s geographic span, from the Aegean Sea to what is now Afghanistan and Pakistan”
(Terjemahan :” Kerajaan Seleucid terbentang dari laut Aegean sampai daerah dimana hari ini disebut Afghanistan dan Pakistan)
Dan inilah yang dimaksud kekuasaannya melebar ke arah timur
Daniel 8:9 Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
Sosok tanduk kecil (little horn) inilah dikatakan oleh sejarawan sebagai Sosok Raja Seleucid yang dikenal bengis bernama Antiochus Epiphanes. Dia dikenal sebagai Raja Seleusid bekerjasama dengan Yahudi Hellenis membantai Yahudi yang sholeh dan mamaksa mereka untuk menyembah Zeus
“Antiochus decided to side with the Hellenized Jews by outlawing Jewish religious rites and traditions kept by observant Jews and by ordering the worship of Zeus as the supreme god”
Dan interpretasi ini juga merupakan interpretasi para sejarawan semaca Flavius Josephus sampai Thomas Aquinas
Komentator Alkitab Barnes mengatakan
“Nothing could better express the conduct of Antiochus toward the Jews”
(Terj : Tidak ada yang sosok yang lebih tepat dalam kitab Daniel 8:10 ini selain Antiochus ketika menyiksa kaum Yahudi )
Kerajaan Seleucid dimana dibawah kepemimpinin Antiochus Epiphanes(Epi phanes= Manifestasi Tuhan) dikatakan :
Daniel 8:10 Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
Kekejian Kerajaan Seleucid terhadap keyakinan Monotheis umat Bani Israel ini semakin berani dengan mengumumkan status ketuhanan Antiochus sebagai “Epiphanes” atau” Manifestasi Zeus” dan berlanjut ketika kerajaan Romawi menggantikan kekuasaan Seleucid
Pemberontakan kaum Yahudi atas pemaksaan ajaran Hellenisme Romawi ini terus berlangsung dan menimbulkan beberapa pertempuran besar karena pemberontakan Yahudi. Tercatat ada tiga perang besar yang melibatkan pemberontakan Yahudi.
Pada tahun 70 M inlah terjadi Revolusi Yahudi yang pertama dimana Kaisar Romawi yang nyentrik Nero memerintahkan penghancuran Bait Kudus dibawah bendera Jenderal Titus yang kemudian menyita seluruh peralatan Baitul Maqdis dan merobohkan bangunan Bait.
Daniel 8:11 Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
Apakah yang terjadi setelah kehancuran Baitul Maqdis yang kedua ini? Agaknya kita semua paham bahwa sejak saat itu berhentilah peribadatan di Baitul Maqdis. Kaum Yahudi diusir dari Yerusalem oleh Romawi dan memulai diaspora ke seluruh dunia.
Termasuk Yahudi yang percaya dengan kenabian Isa Al Masih yang masih keukeuh dengan ajaran Monotheisme dan aturan Tauratnya pun tidak luput dari pengusiran ini.
Daniel 8:12 Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
Ketika itulah muncul pertanyaan dari satu sosok kepada sosok yang lain tentang lama terhentinya ibadah di Baitul Maqdis Bait Kudus akibat penghancuran Baitul Maqdis Bait Suci itu berlangsung? Dalam penglihatan Nabi Danial dikatakan percakapan dua sosok ..
Daniel 8:13 Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?”
Dikatakan bahwa masa itu berlangsung selama 2300 hari. Jika kita mengambil sistem penanggalan kalender Yahudi dimana 1 tahun sebanyak 360 hari maka kita mendapatkan angka 6,38 tahun sebagai waktu yang setara dengan 2300 hari.
Dalam penentuan angka 2300 ini, para ahli tafsir atau komentator Alkitab mengalami kesulitan dalam menginterpretasi makna 2300 petang dan pagi ini. Sangat terlihat sisi subjektifitas mereka ketika mereka enggan menyebutkan kaum musliminlah yang membangun Bait suci ini pada tahun 638 M.
Barnes mengatakan
“Much difficulty has been felt by expositors in reconciling this statement with the other designations of time in the book of Daniel”
(Terjemahan: “Beberapa penakwil nubuat mengalami kesulitan dalam memahami hal ini dikaitkan dengan penyebutan analogi waktu dengan Kitab Daniel di bab yang lain)”
Jika kita menggunakan pengertian 6,38 tahun ini maka dalam sejarah Baitul Maqdis, tidak pernah dibangun 6 tahun setelah kehancurannya yang kedua pada tahun 70 M tadi..
Lain halnya jika 6,38 tahun itu merupakan permisalah 638 tahun, maka tepatlah yang terjadi pada tahun tersebut Khalifah Umar Bin Khattab memasuki kota Yerusalem tanpa darah setetespun tertumpah. Kaum muslimin Arab saat itu disambut oleh pendeta Kristen Orthodox Severinus/Sophronius dan menyerahkan kunci Yerusalem kepada beliau
Khalifah kemudian meminta pendeta tersebut untuk menunjukkan tempat reruntuhan Baitul Maqdis dan beliau mendapati reruntuhan Bait itu telah menjadi tempat pembuatang sampah oleh umat Nasrani yang memang tidak pernah merasa memiliki Bait itu bahkan dipertahankan demikian sebagai monumen penggenapan nubuat Yesus atas nasib Bait Suci
Lukas 13:35 Sesungguhnya Baitmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.
Mungkin inilah maksud dari Nubuat Yesaya tentang kedatangan pasukan Bani Ismael dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab yang membangun kembali Bait Suci dari reruntuhan berabad-abad.
Yesaya 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Dan ini jugalah yang kemungkinan dimaksud ketika pasukan Islam dibawah kepemimpinan para sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wassalam saat menaklukkan kota demi kota, membangun kota-kota yang telah mati dan membangun kota-kota yang baru seperti Bashra dan Kufah di pesisir sungai dan laut.
Yesaya 61:4. Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi.
Dan mungkin sekali ini yang dirujuk oleh salahseorang Hawariyyin murid Nabi Isa bernama Simon Kefa yang mengatakan dalam
Kisah 15:14 “Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan”
Dan sepertinya yang dimaksud oleh beliau adalah Kitab Nabiuallah Ams dalam:
Amos 9:11. “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala,
2300 hari dibagi 360 lunar = 6,38.Tahun 638 M adalah tahun dimana Khalifah Umar Bin Khattab
memasuki kompleks reruntuhan Bait Suci dan memulai kembali pembangunan Bait Kudus Baitul Maqdis…
Wallahu a’lam bish shawab….hanya Allah yang tahu kebenaran dari semua ini..
=====================
Berikut kutipan Daniel 8
8:1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.
8:2 Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.
8:3 Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.
8:4 Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.
8:5 Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.
8:6 Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.
8:7 Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.
8:8 Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.
8:9 Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.
8:10 Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.
8:11 Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.
8:12 Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.
8:13 Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?”
8:14 Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”
8:15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;
8:16 dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!”
8:17 Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: “Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!”
8:18 Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.
8:19 Lalu berkatalah ia: “Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.
8:20 Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.
8:21 Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.
8:22 Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.
8:23 Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.
8:24 Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.
8:25 Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.
8:26 Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh.”
8:27 Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.

Benarkah DAUD/DAWD/DAWID/DAVID bukan seorang NABI / PROPHET dan hanya sekedar RAJA / KING?


Satu diantara  NABI-NABI  yang dicela oleh para pendeta anda dari kalangan YAHUDI dan NASRANI hari ini adalah NABIULLAH DAUD/DAWD/DAWID/DAVID. Mereka para Rabbi Kohen dan dengan diamini  oleh umat yang sesat, dengan tanpa ilmu menuduh DAUD NABIULLAH sebagai orang yang bermoral bejat. Padahal ALLAH sangat jelas menjelaskan dalam ALQUR’AN  bahwa DAUD adalah seorang NABI dan RAJA, dan ALLAH lebih tahu dan maha tahu siapa DAUD hambaNya.
An Nisaa 163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan ZABUR kepada DAUD.
Al Isra 55. Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada DAUD.
Al An’am 84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu DAUD, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Maka sekarang kami kaum Muslimin akan menunjukkan kepada anda bahwa para 12 rasull Yesus Utusan Allah pun mengetahui bahwa DAUD memang SEORANG NABI..
Semoga ALLAH memberi kepada anda hidayah ISLAM, agama para NABI dan UTUSAN ALLAH, agama yang memuliakan para NABI ALLAH, agama yang melarang pemeluknya berkata-kata tanpa ILMU dariNya..
Simak ucapan Petrus Simon Kefa salah seorang dari Hawariyyin Nabiullah Isa Al Masih bin Maryam, Yesus Kristus putra Maryam, Ieshua Ha Masiha bar Mariamn..
Kisah Para Rasul 2:29-30
“Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang DAUD, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi IA ADALAH seorang NABI dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya
Itu sudah cukup bagi anda untuk mengetahui bahwa  kaum muslimin mempunyai keyakinan yang sama dengan MURID NABI YESUS, PETRUS SIMON KEFA, tentang kedudukan NABIULLAH DAUD..
Di lain tempat, NABI menurut link Hebrew, adalah:
A prophet is basically a spokesman for G-d, a person chosen by G-d to speak to people on G-d’s behalf and convey a message or teaching. Prophets were role models of holiness, scholarship and closeness to G-d. They set the standards for the entire community
terjemah : “Secara garis besar, Nabi adalah Juru Bicara ALLAH, seorang manusia yang dipilih ALLAH untuk berbicara atas nama ALLAH dan menyampaikan pesanNya  atau ajaranNya kepada manusia. Seorang nabi adalah teladan dalam kesucian, keilmuan dan kedekatan mereka kepada ALLAH. Mereka para nabi merupakan sosok manusia -manusia yang harus menjadi standard bagi perilaku kehidupan umat manusia”
The Hebrew word for a prophet, Navi (Nun-Beit-Yod-Alef) comes from the term niv sefatayim meaning “fruit of the lips,” which emphasizes the prophet’s role as a speaker.
terjemah : “Bahasa Ibrani dari nabi adalah NAVI, dibaca sebagai NABI, tersusun dari huruf IBRANI (Nun-Beit-Yod-Alef.)  yang datang dari terminologi NIB SEFATAYING yang  berarti “Buah dari bibir” yang  menegaskan peran dari seorang NABI sebagai penyampai firmanNya”
Menurut link Nasrani
The “prophet” proclaimed the message given to him, as the “seer” beheld the vision of God. (See Num. 12:6,8.) Thus a prophet was a spokesman for God; he spake in God’s name and by his authority (Ex. 7:1). He is the mouth by which God speaks to men (Jer. 1:9; Isa. 51:16),
terjemahan :  ”Nabi memeproklamasikan pesan yang disampaikan kepada mereka, seakan berlaku sebagai penyampai apa yang dilihatnya di dalam penglihatan yang diberikan oleh Tuhan (Lihat Kitab Bilangan 12:6,8). Dus, jadi seorang nabi adalah jurubicara Tuhan, berbicara atas nama Tuhan, dan atas izin yang diberikan Tuhan kepada mereka (Lihat kitab Keluaran 7:1). Mereka adalah manusia yang dengan mulutnya Tuhan berfirman kepada manusia (Lihat Yeremia 1:9; Yesaya 51:16)”
Menurut definisi umum
a person who speaks for god or a deity, or by divine inspiration.
terjemahan : manusia yang berbicara atas nama Tuhan
Informasi Alkitab :
2 Sa 23:1 Inilah perkataan Daud yang terakhir: “Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel.: Roh TUHAN berbicara dengan perantaraankuFIRMAN-NYA ada DILIDAHKU ;
Berdasarkan info-info diatas maka Daud masuk kategori nabi.
Dan Daud adalah seorang nabi pun diakui oleh bapak-bapak para penulis link dibawah ini

Ucapan Doa Alaihissalam Alav ha Shalom oleh Umat Terdahulu

Mengapa umat Muslim saja yang mendoakan para Nabinya dengan ucapan “Alai
his Salam ( Semoga Allah melimpahkan salam atas diri beliau)?
Jawab :
Bukan cuma tradisi Islam, bahkan tradisi Yahudi kuno dan Nasrani generasi pertama pun, penyebutan nama para nabi dan orang sholeh yang telah meninggal disertai ucapan doa atas mereka dengan “Alav ha Shalom”
Anda bisa mendapatkan bukti hal ini dalam “13 Rukun Iman mereka susunan Rambam” dimana pada Rukun ke 7 dan 8 termuat
I believe with perfect faith that the prophecy of MOSES our teacher, PEACE BE UPON HIM, was true, and that he was the chief of the prophets, both those who preceded him and those who followed him.
I believe with perfect faith that the entire Torah that is now in our possession is the same that was given to MOSES our teacher, PEACE BE UPON HIM

Monday, 11 March 2013

Makna Kata Iqra (Bacalah) Dalam Surat al–‘Alaq

Kata Iqra (اقرا( yang dalam bahasa Indonesia berarti bacalah, merupakan suatu bentuk kata kerja, yang dalam bahasa Arab disebut fi’il amr merupakan kata dasar atau fi’il mudhori’ dari Qara a – yaqrou (يقرا –قرا (yang artinya membaca.

Surat al Alaq ini merupakan wahyu pertama Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat malaikat Jibril di Gua Hira, wahyu pertama ini tidak secara keseluruhan satu surat langsung dari surat al Alaq, wahyu pertama yang Allah turunkan adalah hanya ayat 1 – 5 dari surat al Alaq.

Kata pertama dari surat al Alaq adalah berbunyi Iqra yang artinya bacalah. Bacalah, perintah Allah kepada nabi Muhammad SAW juga termasuk kepada ummatnya adalah diperintahkan untuk membaca. Tetapi, makna dari kata bacalah atau membaca ini tidak hanya sekedar diterjemahkan dalam makna membaca, tetapi membaca disini tidak hanya membaca.

Membaca, betul betul membaca, dalam artian tidak hanya sekedar seperti kita hanya membaca buku saja, itu masih merupakan makna yang sederhana sekali. Padahal,maksud Allah memerintahkan untuk membaca adalah agar umat manusia benar benar membaca, nah bagaimana artian membaca yang sebenarnya?

Disini, saya jelaskan beberapa makna dari kata membaca dalam surat al Alaq, yakni:
Iqra yang artinya bacalah, berarti ummat manusia diperintahkan untuk membaca, membaca bisa juga dimaknai dengan memahami atau fahamilah yang serupa dengan bacalah.
Bisa juga berarti telitilah
Bacalah juga bermakna analisalah, sintesakanlah
Dan bisa juga dengan artian yang lebih luas yaitu temukan teori, temukan ilmu. Karena membaca merupakan salah satu gerbang dari ilmu pengetahuan maka ia jug bermakna temukan ilmu.

Implikasi dari Iqro, ummat Islam itu bisa memproduk sesuatu dengan ilmu atau menciptakan suatu penemuan baru dalam ilmu pengetahuan.

Allah memerintahkan untuk membaca, namun obyek yang dibaca tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Allah tidak menentukan apa yang harus dibaca. Artinya, bacalah:
Fenomena, ayat kauliyah dan ayat kauniyah Allah yang terdapat di alam semesta ini.

Ayat kauniyah merupakan ayat ayat berupa alam, seperti adanya ala mini, kita diperintahkan untuk membaca, mempelajari apa yang ada di ala mini, dalam dunia pendidikan seperti kita belajar ilmu eksakta dan ilmu social, itu semua merupakan ayat kauniyah Allah.
Nomena (makhluk gaib/benda gaib/sesuatu yang tidak nampak yang tidak bisa dirasakan oleh indra).

fenomena dan nomena tersebut adalah merupakan obyek ilmu pengetahuan, dimana obyek ilmu pengetahuan yaitu seluruh ilmu ilmu yang berasal dari satu sumber yaitu Allah.

Itulah, sekilas makna Iqra dalam surat al Alaq yang saya dapat dari bangku perkuliahan pada mata pelajaran Tafsir Hadits di semester 3 PAI. Semoga pembaca semua bisa mengambil manfaatnya, dan dapat mengimplementasikan dari makna kata Iqra yang sesungguhnya.

Jadi, kita sebagai ummat Islam sudah mengetahui dan memahami bahwa Allah menyuruh kita semua untuk membaca yang tidak hanya sekedar membaca, maka ummat Islam harus menjadi ummat yang cerdas, tidak boleh bodoh dan mudah dibodohin oleh kaum barat. Yang sejatinya ummat Islam adalah lebih unggul dari ummat lain, maka berbanggalah ummat Islam dengan ilmunya jangan malah mengekor budaya barat. Ummat Islam harus mampu seperti ummat Islam terdahulu yang telah berhasil dan sukses membangun peradaban dunia dengan ilmu pengetahuan.

Lebih penting, sebagai kaum intelektual seperti mahasiswa terlebih mahasiswa muslim harus lebih cerdas dan unggul, harus bisa membaca dengan makna membaca yang sesungguhynya. Semoga, ummat Islam akan selalu sukses dan berhail dengan selalu membaca ayat kauniyah dan kauliyah Allah.


Amin.

Friday, 1 March 2013

Soteriologi Salib Bukanlah Jalan Keselamatan Menurut Yesus


Matius 19
19:16. Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah ALLAH.”
19:18 Kata orang itu kepada beliau: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 
19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
19:20 Kata orang muda itu kepada beliau: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”
19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah aku.”
Pertanyaan :
Jika Sang Nabi tidak menyebutkan peristiwa penyaliban sebagai fondasi iman, maka darimanakah anda mengambil kesimpulan bahwa seorang Kristiani harus mempercayai Penyaliban Yesus sebagai jalan Keselamatan?
Darimanakah ajaran yang mengatakan untuk selamat harus mempercayai Yesus sebagai Tuhan atau okum ketuhanan?
Darimanakah doktrin turun temurun yang memvonis barangsiapa yang tidak mempercayai peristiwa penyaliban pasti mendapat kutuk dan maut?
Jawabnya…Tidak ada
Kesimpulannya: anda tidak perlu mempercayai penyaliban Sang Nabi dan tidak perlu mempercayai Yesus sebagai Tuhan…Karena itu semuabukanlah ajaran Nabi Yesus

Nubuat dalam Alkitab Yesaya 60 Yesaya 62 dan Yesaya 35: Kota Mekkah dalam Alkitab..



Nubuat para jamaah haji datang dari seluruh penjuru dunia dgn berjalan kaki, mengendarai unta kurus dan unta gemuk..hitam dan putih bertemu dan berjabat tangan..Saling mengajarkan Islam untuk negerinya masing2..
Yesaya 60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu,unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba,akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN
Berikut nubuat Yesaya 60 tentang ibadah menyembelih, ibadah qurban di Tanah Suci Makkah…Ketika ternak Suku Qaidaar Bani Ismael dan Suku Nabayuut dipersembahkan di Hari Raya Haji…Idul Adha..Di Saudi Arabia
Yesaya 60:7 Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan Bait keagungan-Ku.
Berikut nubuat Yesaya 60 tentang kejayaan kota Mekkah yang dahulu ditinggalkan tidak berpenghuni …Maka Mekkah akan hidup di malamnya dan siangnya…Bait Allah berdiri kokoh..
Yesaya 60:15. Sebagai ganti keadaanmu dahulu, ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi seorangpun, sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun.
Berikut nubuat Yesaya 60 tentang pintu gerbang Mekkah senantiasa terbuka untuk para peziarah Umroh maupun Haji…dari seluruh negara mereka memberikan kekayaannya kepada negeri yang GERSANG…
Yesaya 60:11 Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.
Berikut nubuat Yesaya tentang kota Mekkah padang gersang yang tidak dilirik oleh para pewaris Alkitab bahkan tidak dianggap…akan menjadi berharga dengan “Damai Sejahtera”..ISLAM
Yesaya 60:17 Sebagai ganti tembaga Aku akan membawa emas, dan sebagai ganti besi Aku akan membawa perak, sebagai ganti kayu, tembaga, dan sebagai ganti batu, besi; Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu.
Berikut nubuat Yesaya 62 tentang kota Makkah…Makkah hari ini berarti : “Kota yang Dicari-cari”..”Kota Yang Dirindukan”..Tercantum dalam website Free Dictionary dalam http://www.thefreedictionary.com/Meccasebagai “a place that attracts many visitors”
Yesaya 62:12 Orang akan menyebutkan mereka “bangsa kudus”, “orang-orang tebusan TUHAN”, dan engkau akan disebutkan “yang dicari”, “kota yang tidak ditinggalkan”.
Berikut nubuat Yesaya 60 tentang keamanan Makkah yang tersebar setelah pengutusan seorang Nabi..
60:18 Tidak akan ada lagi kabar tentang perbuatan kekerasan di negerimu, tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerahmu; engkau akan menyebutkan tembokmu “Selamat” dan pintu-pintu gerbangmu “Pujian”.
Berikut nubuat Yesaya 35 bahwa kota Makkah tidak diperkenankan dimasuki oleh kaum Non Muslim…dan para wanita haid dan orang yang belum mandi tahir (mandi junub) dilarang masuk ke kawasan Masjid Al-Haram
Yesaya 35:8 Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.

Asal mula kata “TUAN” menjadi kata “TUHAN” dalam Alkitab Bahasa Indonesia

Berikut adalah nukilan dari seorang ahli bahasa Indonesia Remy Syladoketika beliau mencari asal kata TUHAN dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.
…”Ada lagi perkataan yang hebat sekali, terjadi dalam bahasa orang Indonesia, yang awalnya tersua dalam bahasa tulis Melayu berhuruf Latin, juga melintas dari tradisi gereja, yaitu perkataan yang dengan sendirinya dipahami dari sudut teologi Nasrani, menyangkut substansi ilahi dalam insani. Perkataan yang dimaksudkan adalah Tuan danTuhan.
Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan tuan sifatnya insani, dan perkataan tuhan sifatnya ilahi. Artinya, walaupun dalam kata tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: satu orang tempat mengabdi, dua yang memberi pekerjaan, tiga orang laki-laki yang patut dihormati, tetap saja dalamnya tidak mengandung pengertian ilahi.
Sebentar lagi kita akan melihat perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam kitab suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Melalui itu dapat gerangan kita simpulkan bahwa pencarian ejaan yang lebih aktual untuk sebutan khusus bagi Isa Almasih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin-yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios-menjadi Tuhan dan sebelumnya Tuan,serta-merta telah melahirkan juga eksegesis yang jamak. Sebelum kita memeriksa bukti itu dengan membuka pelbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut-semuanya masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia, yang sebagian fotokopinya kami sertakan di sini-patutlah terlebih dulu kita melihat juga bagaimana orang Nasrani sekarang mencatat perkataan Tuhan dalam kamus-kamusnya tentang gereja.
Agaknya buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya di situ, Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih kita baca lagi dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja.
Melihat keterangan itu, dan melihat pula pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang mudasir dalam agama Kristen, maka boleh dibilang hal itu sepenuhnya merupakan masalah teologi Kristen. Sesuai data yang kita punyai, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitabsuci Nasrani tersebut. Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai, dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitabsuci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan.
Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi tuan. Coba kita periksa itu dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injili Paulus kepada umat di Roma. Kita baca bagian 1:1-4, yaitu, “Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura). Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.”
Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus. Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran.
Melalui terjemahan Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ‘Elkitab, ija itu segala suat Perdjandjian Lama dan Baharuw atas titah Segala Tuawan Pemarentah Kompanija, pada perikop yang sama dengan terjemahan Brouwerius di atas, teksnya adalah, “Pawlus sa’awrang hamba ‘Isaj ‘Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus). Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-’Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij ‘Isaj Elmeseih Tuhan kamij.”
Jelas, yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan-sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere-melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih-masalah rumit yang memang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon-akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.
Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ‘empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silakan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Di samping itu gagasan Leijdecker mengeja Tuhan untuk mengiring lafaz palatal ‘n’ dengan tepat. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas budak Portugis asal Goa, terpengaruh Portugis, melafaz ‘n’ menjadi ‘ng’. Juga di Ambon, di pusat tujuan bangsa-bangsa Barat untuk memperoleh rempah-rempah, Tuan dibaca Tuang. Bahkan setelah Leijdecker mengeja Tuhan pun, orang Ambon tetap membacanya Tuang, sampai sekarang. Maka, di Ambon Tuang Ala berarti Tuhan Allah. Selain itu orang Kristen Ambon menyebut Allah Bapa sebagai Tete Manis, harafiahnya berarti ‘kakek yang baik’.
Leijdecker sendiri banyak melakukan kerancuan transliterasi atas kata-kata Melayu dari aksara Arab gundul ke Latin. Melalui contoh acuan perikop di atas, terlihat jelas, bahwa ia tidak mengetahui ketentuan menulis kata-kata Melayu dalam aksara Arab gundul. Umpamanya, agar ‘w’ dan ‘y’ berbunyi ‘o’ dan ‘i’ di depannya harus dipasang alif. Contohnya ‘orang’ adalah (), ‘oleh’ adalah (), ‘itu’ adalah ().
Sudah tentu terjemahan Leijdecker itu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya, di abad berikut, di zaman penjajahan Inggris, timbul gagasan untuk merevisi terjemahan Leijdecker tersebut. Robert Hutchings, pastor gereja Anglikan, menghitung sekitar 10.000 kata yang diacu Leijdecker itu tidak tersua dalam kamus Melayu karya William Marsden yang standar baru itu. Terjemahan revisi ini terbit pada tahun 1817, dicetak di Serampura, India.
Sebelum itu, dua tahun setelah Gubernur Jenderal Inggris Raffles, menggantikan kedudukan Gubernur Jenderal Belanda Janssens, telah datang seorang zending dari lembaga London Missionary Society, yaitu William Milne, ke Malaka menemui Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, meminta bantuannya untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Lalu, bersama Claudius Thomsen, mereka mengerjakan revisi atas terjemahan Leijdecker tersebut. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merasa terganjel khususnya pada sebutan ‘bapa’ kepada Allah, dan ‘anak Allah’ kepada Isa Almasih. Memang, perkataan itu dipahami pihak Nasrani sebagai acuan teologis, bukan antropologis, untuk mengaktualkan hakikat masyiah dari leluri Ibrani, yang berkonteks diurapi dan bangkit dari kematian.
Setelah itu masih dilakukan lagi revisi-revisi terjemahan Melayu atas kitabsuci Nasrani tersebut oleh pihak zending Inggris. Yang berikut dipimpin oleh Benjamin Keasberry, dan karyanya itu dibantu pula oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Revisi terjemahan ini terbit pada tahun 1852, dicetak di Singapura.
Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas, bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih, Tuhan, telah terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan.
Terjemahan kitabsuci Nasrani yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan itu menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. Klinkert menulis dua versi, yaitu edisi Melayu rendah, Wasijat Yang Baroe, terbit pada tahun 1875; dan edisi Melayu tinggi, Kitaboe’lkoedoes, terbit pada tahun 1879. Versi yang kedua ini merupakan kitab yang paling populer di Minahasa. Di Minahasalah tempat lahirnya gereja protestan yang berorientasi kebangsaan, lima tahun setelah Sumpah pemuda, yaitu KGPM.
Kini, secara linguistik, tidak ada masalah bagi kata Tuhan yang muradif dengan pengertian ilahi. Nama ini pun sudah maktub dalam Pancasila. Yang tidak kurang melahirkan pertanyaan, mengapa sila pertama itu berbunyi ‘ketuhanan yang mahaesa’, ‘bukan ‘Tuhan yang mahaesa’ saja. Dengan ‘ketuhanan’, terkesan seakan-akan ada banyak Tuhan di Indonesia, tapi hanya satu Tuhan yang mesti disembah. Memang, dalam kalimat ini kita meraba adanya kompromi politis dari pendiri-pendiri republik. Tidak muncul diskusi bahasa mengenai hal itu sebelum amandemen yang lalu.”..-Selesai kutipan-

Remy Sylado ahli bahasa
URL source: